Bahasa vickynisasi muncul pertama
kali melalui jejaring sosial. Dimulai dari seseorang yang begitu lancarnya
mengucapkan bahasa Indonesia dengan kesalahan yang sangat fatal.
Namun karna bahasa vickynisasi lucu
dan tidak beraturan pengucapan dan maknanya,akhirnya di jadikan bahan ejekan
oleh masyarakat. Melalui ejekan-ejekan itu,akhirnya masyarakat terbiasa ole
ejekannya,secara tidak langsung akhirnya merusak bahasa iIndonesia menurut EYD.
Disisi positifnya, dari kejadian ini
maka terlihatlah masyarakat yang kreatif dengan ciptaan kosa kata baru .
Contoh:
1.
Kaya : Superioritas kemmakmuran
2.
Keramas : Sterilisasi rambut
3.
Upah : kristalisasi keringat
4.
Statusisasi kemakmuran : Proses
penentuan status kekayaan seseorang
5.
Membaca: Interpretasi himpunan abjad
6.
Mengaji : Harmonisasi hati
7.
Miskin : Ketidak mampuan ekonomikal
secara absolute
8.
Mandi : Waterisai ragawi, dll.
Bahasa
alay itu adalah variasi bahasa yang muncul karena adanya komunitas anak-anak
remaja/muda. Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu
atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang)..
Dominannya, istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara
gaya busananya. Alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi bangsa
Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini
akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian mereka.
Istilah alay hadir setelah di
facebook (Jejaring social) semakin marak penggunaan bahasa tulis yang tak
sesuai kaidah bahasa Indonesia oleh remaja. Hingga kini belum ada definisi yang
pasti tentang istilah ini, namun bahasa ini kerap dipakai untuk menunjuk bahasa
tulis. Dalam bahasa alay bukan bunyi yang dipentingkan tapi variasi tulisan
Cirri-ciri
bahasa Alay diantaranya:
1.
Menggunakan angka untuk menggantikan huruf. Contoh: “t3m4n, b350k k1t4 p3r91
yuuk”.
2.
Kapitalisasi yang sangat berantakkan. Contoh:”tEmAn, bEsOk kItA pErGi YuUuK”.
3.
Menambahkan “x” atau “z” pada akhiran kata atau mengganti beberapa huruf
seperti “s” dengan dua huruf tersebut dan menyelipkan huruf-huruf yang tidak
perlu serta merusak EYD atau setidaknya bahasa yang masih bisa dibaca.
Mengganti huruf “s” dengan “c” sehingga seperti balita berbicara. Contoh:
“nanti Aq xmx kamyu deeech”, “xory ya, becok aQ gx bica ikut”.
Dampak positif dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja
menjadi lebih kreatif. Terlepas dari menganggu atau tidaknya bahasa Alay ini,
tidak ada salahnya kita menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang
muncul. Asalkan dipakai pada situasi yang tepat, media yang tepat dan komunikan
yang tepat juga.
Sedangkan dampak negatifnya adalah penggunaan bahasa Alay
dapat mempersulit penggunanya untuk berbaha Indonesia dengan baik dan benar.
Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan untuk selalu
menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah,
ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa Alay. Karena,
bahasa Alay tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis. Begitu juga di
kantor, laporan yang kita buat tidak diperkanakan menggunakan bahasa Alay.
Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa
Alay sebagai komunikasi.
Dampak negatif lainnya, bahasa Alay dapat mengganggu
siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya.
Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata Alay tersebut.
Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang
lebih banyak untuk memahaminya.
Bahasa prokem merupakan salah satu
cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja.
Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai
'bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem
dalam pergaulan sebagai preman.
Saat ini bahasa prokem telah banyak
terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari
dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer seperti
TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk
pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah
remaja populer. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem
adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang
dalam kehidupan sehari-hari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan
menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain
menggunakan bahasa Indonesia formal.
Beberapa contoh bahasa Prokem:
|
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Prokem (informal)
|
|
Aku,Saya
|
Gua, Gue, Gw
|
|
Tidak
|
Enggak
|
|
Norak/Udik
|
kamseupay
|
|
Kamu
|
Elu, lo
|
|
Memang benar!
|
Emang bener!
|
|
Penatlah!
|
Cape deh!
|
Bahasa prokem bukanlah bahasa
Indonesia resmi meskipun bahasa ini digunakan secara luas dalam percakapan
verbal dalam kehidupan sehari-hari.Banyak orang asing yang belajar Bahasa
Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia
asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang
Indonesia berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing atau juga menggunakan
bahasa prokem,itu adalah dampak/pengaruh paling negatif.
Masyarakat Indonesia kadang juga lebih
suka dan bangga menggunakan bahasa asing dari pada bahasanya sendiri, karna
mungkin masyarakat Indonesia berpendapat bahwa bahasa asing itu mengikuti zaman
, keren dan lebih di terima di lingkungan bermasyarakat. Namun, mereka tidak
memikirkan pengaruh negatifnya terhadap bahasa kita sendiri yaitu bahasa
Indonesia menurut EYD.
Banyak sekali kata-kata yang menjadi
kuno atau pun usang disebabkan kecenderungan dan perkembangan zaman. Sehingga
penggunaan bahasa Indonesia yang benar sekarang jarang di temukan di lingkungan
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar